Wuissss !!! Kejari Minsel Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Bencana

Amurang,Nyiurtimes.com–Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan sudah menetapkan tersangka dugaan korupsi proyek pembangunan tembok pemecah ombak Ranoipao Amurang. Kasus korupsi penyalagunaan dana siap yang dikucurkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebesar Rp15 miliar itu menyeret dua ASN Pemkab Minsel dan satu pihak penyedia barang dan jasa. Itu disampaikan langsung Kajari Minsel Lambok Sidabutar dalam konfrensi pers yang dilakukaannya Rabu kemarin.

“Jadi dari hasil ekpos penyidik khusus untuk proyek penanggulangan bencana tanggul Ranoiapo itu sudah kita tandatangani penetapan tersangka. Ada tiga oknum yakni HNJK sebagai ASN, SYP juga sebagai ASN dan CYAABW yang adalah direktur dari penyedia barang dan jasa pada pengerjaan proyek tersebut,” ungkap Sidabutar.

Ia menerangkan penetapan tersangka tersebut setelah melalui proses pemeriksaan terhadap 24 saksi termasuk ahli yang didatangkan dari BNPB dan juga dari polteknik Negeri Bandung.

“Jadi terhadap tiga tersangka ini kita menyangkakan melanggar pasal 2 dan 3 undang-undang tindak pidana korupsi nomor 31 tahun 1999 yang sudah direvisi menjadi undang-undang nomor 20 tahun 2001,” jelasnya.

Walau begitu, Sidabutar mengku sampai saat ini pihaknya belum melakukan penahanan.

“Ya nantilah kita lihat. Melakukan penahan itu kan ada dua alasan. Subjektif dan objektif,” kata Kajari sambil mengatakan dalam proses pengungkapan kasus ini, pihaknya juga menggandeng BPK RI dan telah lebih dulu melakukan supervisi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Diketahui kucuran anggaran Rp15 miliar itu merupakan dana siap bencana yang disalurkan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2016. Yang diperuntukkan di beberapa lokasi. Yakni pekerjaan konstruksi darurat pembuatan tembok pemecah ombak di Ranoiapo sebesar Rp 5 miliar. Kedua diperuntukan untuk pekerjaan konstruksi darurat pembuatan tebing di Suluun, ketiga pembuatan tembok pengaman pantai desa Ongkaw, dan yang terahir pembuatan tebing pemukiman desa Karimbow. (*)