Utusan Khusus Presiden Bawakan Kuliah Umum di Unsrat

Manado, Nyiurtimes.com – Utasan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof. Ir. Rahmat Witoelar membawakan kuliah umum internasional mengenai “COP23, Kebijakan Iklim di Indonesia serta Peran Perguruan Tinggi”, bertempat di Ruang Sudang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi (FEB-Unsrat) Manado. Kamis (30/11/2017).

Rektor Universitas Sam Ratulangi yang diwakili oleh Wakil Rektor bidang akademik Prof. dr. Jimmy Posangi M.Sc., Ph.D dalam sambutannya mengatakan Universitas Sam Ratulangi melalui Tridharmanya terus berupaya untuk mengangkat isu-isu ini secara integral dengan pembangunan.

Climate Change telah dimasukkan berupa penelitian serta pengabdian pun dihimbau untuk menyentuh isu ini demi meningkatkan kesadaran umum, tetapi juga memasyarakatkan upaya mitigasi, adaptasi dan transfer teknologi.

“Unsrat melalui Tridharmanya berupaya mengangkat isu-isu ini. Climate Change telah dimasukkan berupa penelitian serta pengabdian. Kami juga menghimbau untuk menyentuh isu ini demi meningkatkan kesadaran umum, tetapi juga memasyarakatkan upaya mitigasi, adaptasi dan transfer teknologi”. kata Jimmy

Rektor pun berharap wawasan serta komitmen kita bersama dapat semakin diperluas dan dipertajam untuk menghasilkan rumusan serta aksi nyata dalam mendukung Nationally Determined Contribution melalui RDC (Regionnaly Determined Contribution) lingkup Sulawesi Utara.

“Komitmen serta wawasan kita harus semakin diperluas untuk dapat menghasilkan rumusan serta aksi nyata dalam mendukung Nationally Determined Contribution melalui RDC (Regionnaly Determined Contribution) lingkup Sulawesi Utara”. Tandasnya.

Kuliah umum yang dibawakan oleh Prof. Ir Rahmat Witoelar sebagai Utusan Khusus Presiden Untuk Pengendalian Iklim mengambil tema “COP23, Kebijakan Iklim di Indonesia serta Peran Perguruan Tinggi.

Prof. Rahmat mengatakan, penyebab terjadinya perubahan iklim disebabkan tingginya kadar emisi gas rumah kaca. Faktor ini juga menyebabkan meningkatnya efek gas rumah kaca yang berdampak pada pemanasan global. Dampak ini dirasakan di seluruh permukaan bumi, terutama di wilayah-wilayah subtropis.

Sementara di tingkat kerusakan lingkungan, Indonesia menghadapi aktivitas kerusakan lingkungan yang cukup parah.

Prof. Rahmat pun berharap Perguruan Tinggi dapat menghasilkan pengembangan teknologi ramah lingkungan, rendah karbon, dan bisa dijalankan secara berkelanjutan

memerlukan kontribusi seluruh pihak, termasuk perguruan tinggi dan juga penguatan Tridharma Perguruan Tinggi harus terfokus pada masalah kerusakan lingkungan.

“Kita tidak bisa mengarahkan hanya kepada sektor individu saja, perlu dilakukan secara berkesinambungan, sistematis, dan masif tetapi juga penguatan Tridharma Perguruan Tinggi harus terfokus pada masalah kerusakan lingkungan”. Ujar Prof. Rahmat (**)