Ulasan Pendeta Andreas Yewangoe: “Demitologisasi dan Desakralisasi Yerusalem”

Manado, Nyiurtimes.com – Ulasan menarik dari Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Periode 2004-2009 dan Periode 2009-2015, seorang Pendeta, dosen, teolog, pemikir Kristen Protestan dan seorang tokoh bangsa Indonesia yang diposting pada akun Halaman Facebooknya.

Pdt. Dr. Andreas Anangguru Yewangoe (Ketua Majelis Pertimbangan PGI/Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila)

Dalam diskusi di Bandung tadi malam (8 Desember 2017) ada yang bertanya tentang pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel. Apa pendapat kami (Pak Bambang Wijaya dan saya).

Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Kita tahu bahwa unsur-unsur emosi keagamaan dengan sangat mudah dipicu kalau orang bicara tentang Yerusalem, dan Israel-Palestina pada umumnya. Untuk itu barangkali buku Karen Armstrong tentang Yerusalem bagus untuk didalami.

Sebagaimana kita tahu, sejak negara Israel diproklamasikan tahun 1947, sejak saat itu orang Palestina yang sudah hidup di negeri itu selama ribuan tahun kehilangan tanahnya. Bahkan ada orang Palestina yang hanya diberi kesempatan 1 atau 2 jam saja berkemas meninggalkan rumah dan tanahnya.

Kita tahu Israel telah meninggalkan Tanah Palestina berdiaspora sejak tahun 70 Masehi pada waktu Yerusalem dihancurluluhkan oleh Jenderal Titus.  Sejak saat itu mereka ada di mana-mana di seluruh dunia ini. Hitler dengan “Kerajaan Ketiga”nya memicu Perang Dunia II. Pada waktu itu orang Yahudi dikorbankan Hitler dengan Holocaustnya yang terkenal dan mengerikan itu. Maka negara-negara Barat pemenang PD II merasa bersalah terhadap orang Yahudi. Itulah sebabnya segera setelah PD II, negara-negara pemenang itu mendorong didirikannya Negara Israel yang selama ini telah menjadi cita-cita Gerakan Zionisme dengan ibukota Tel Aviv.

Ketika negara Israel diproklamasikan, Yerusalem dibagi dua. Bahagian Timur diberikan kepada Israel, sedangkan bagian barat, kota lama kepada Yordania. Namun pada perang 6 hari tahun 1967, Israel merebut bahagian kota lama dan mengklaim seluruh kota sebagai miliknya. Namun tidak ada satu negarapun di dunia termasuk PBB mengakui klaim Israel menjadikan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Yerusalem tetap dianggap sebagai kota yang di dalamnya situs-situs tiga agama terdapat. Maka karena itu orang lebih cenderung berpikir tentang Yerusalem sebagai “kota terbuka”. Bahkan ada yang berpikir memberi status internasional kepada Yerusalem. Demikianlah kedudukan kota itu hingga sekarang.

Pertanyaan adalah, haruskah kota itu dipandang sebagai kota sakral karena situs-situs agama terdapat di dalamnya? Sesungguhnya dari perspektip Kristiani Yerusalem tidak lagi merupakan kota sakral sejak Yesus Kristus memecahkan mitos kesakralan itu dengan tercabiknya tirai di Bait Allah pada peristiwa penyaliban. Maka sejak itu umat Kristiani hendaknya berpikir mengenai demitologisasi dan desakralisasi terhadap Yerusalem. Setidak-tidaknya ada 2 referensi di dalam PB yang bisa diacu untuk mendukung pendirian ini. Pertama, dalam percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus mengatakan: “Akan tiba saatnya Allah disembah bukan di gunung ini atau di Yerusalem melainkan dalam Roh dan kebenaran”.  Kedua, dalam kitab Wahyu, Yohanes melihat “Yerusalem baru” yang turun dari surga. Ini berarti Yerusalem lama telah tidak layak. Bukankah Yerusalem lama membunuh nabi-nabi dan para utusan Tuhan sebagaimana dikatakan Yesus?

Tentu pertanyaan adalah, masih perlukah mengunjungi Yerusalem sekarang ini? Ya, bagi yang berduit boleh-boleh saja berwisata ke sana. Namun tidak lebih dari mengunjungi situs-situs bersejarah. Mungkin sebagai napak tilas terhadap jejak-jejak Yesus dan lokasi bersejarah lainnya. Mungkin ada yang makin dikuatkan imannya setelah mengunjungi tempat-tempat itu. Tidak apa-apa. Tidak dilarang untuk itu. Tetapi di dalam melakukan itu kita harus selalu ingat nasib orang Palestina yang terusir dari situ sejak proklamasi negara Israel dan sejak aneksasi tahun 1967. Maka pada akhirnya persoalan Israel-Palestina, dan khususnya Yerusalem bukanlah soal agama, tetapi soal tanah air. Selamat pagi. (**)