Tarian Maengket Batal Tampil Saat FPSL, Komisi 2 DPRD Bitung Gelar RDP

Nyiurtimes.com, BITUNG – Guna menindaklanjuti aspirasi masyarakat tentang tidak diangkatnya adat budaya (Penampilan Tarian Maengket, red), dalam pelaksanaan Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) tahun 2019 serta para Paskibraka Kota Bitung yang tidak diperhatikan saat pelaksanaan Sailing pass, Komisi 2 DPRD Kota Bitung menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP). Senin (28/10/2019) bertempat di ruang komisi 2.

RDP yang dipimpim langsung oleh ketua Komisi Erwin Wurangian ini dihadiri oleh Instansi terkait yaitu Dinas Pariwisata Kota Bitung dan Panitia FPSL serta JPKP selaku pihak yang menyampaikan aspirasi.

“Yang pertama Tarian maengket tidak tampil secara kolosal saat pembukaan FPSL, hal ini telah mencoreng kearifal lokal. Kejadian ini menghilangkan simpati dari pemerhati adat. Yang kedua Paskibraka diundang resmi oleh Dinas Pariwisata Kota Bitung, namun tidak diperhatikan ketika mengikuti Sailing Pass. Baik kapal yang hendak dipakai saat di Polairut maupun konsumsi,” ujar salah satu anggota JPKP Bitung membuka pembicaraan saat RDP.

Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Pingkan Kapoh menyampaikan permohonan maafnya. “Saya mengundang Paskibraka, mereka akan tampil paling depan dengan menggunakan Kapal dari Polairut/Kapal AL, setingannya seperti itu. Saya mohon maaf untuk Paskibraka, karena saat itu saya tidak mendapat info terkait kejadian ini. Kalaupun sejak awal mendapat info pasti saya akan memperhatikan itu,” ujar Pingkan yang juga merupakan Purna Paskibraka.

Dirinya juga mengatakan bahwa pihaknya selalu mencoba membuat yang terbaik. Meskipun tidak bisa dipungkiri terjadi kendala di lapangan. “Kami tidak pernah berniat melecehkan budaya. Kami selalu ingin mengangkat budaya yang ada. Festival apapun yang kami lakukan baik itu Tulude, kami selalu memperhatikan kearifan lokal yang ada,” tutur Pingkan

Sementara itu mewakili pihak Event Organizer (EO)/Panitia FPSL, Satria Yanwar Akbar menyatakan bahwa terkait tidak tampilnya tarian maengket secara kolosal di pembukaan FPSL karena pada awalnya ada masalah mendasar, bentuk penampilannya masih belum dapat. “Namun untuk tarian maengket dengan gundukan yang terbaik yang kurang lebih berjumlah 100 peserta, yang memang sampai hari yang ditentukan terus mengikuti latihan di lokasi akan ditampilkan di dermaga. Sisanya akan tampil setelah pak menteri kembali dari dermaga,” ujar Satria

Disamping itu juga menurut Satria terjadi kesalapahaman sedikit terkait komunikasi antara EO dan pelatih yang ada.

Mendengar pernyataan dari JPKP dan klarifikasi oleh Dispar maupun EO, Komisi 2 mengeluarkan rekomendasi.

Adapun rekomendasi yang disampaikan langsung oleh ketua Komisi 2 Erwin Wurangian didampingi personil komisi 2 lainnya Ahmad Syafrudin Ila, Rafika Papente, Geraldi Mantiri, Alexander Wenas, Steyvi Tangka, Andri Anugrahang saat itu yaitu :

1. Dispar dapat mengevaluasi FPSL 2019, agar FPSL 2020 dapat lebih baik
2. Pemkot dapat melalukan permintaan maaf. Agar tidak terkesan pemerintah lepas tangan
3. Pemerintah Kota lebih memperhatikan lagi untuk memakai EO kedepan. (REFLY)