Sungguhmati! Masih Ada Harapan Serapan APBD Minsel Capai Target!

AMURANG–Sisa satu bulan lagi, tahun anggaran 2017 akan berahir. Semua jajaran perangkat daerah didorong untuk maksimal mencapai target serapan anggaran paling minimal 80 persen. Harapan ini akan sebanding dengan perform capaian anggaran.

Apalagi menutup triwulan tiga ini, hampir memenuhi target besaran anggaran. Yakni 72,12 persen dari angka Rp941 miliar besaran APBD untuk tahun 2017 ini.

Kendati begitu ekspektasi serapan anggaran nyaris tak berjalan. Malah diendus mengendap dan tiarap. Buktinya sampai Oktober lalu,  baru mencapai 57,08 persen dari total anggaran Rp 928 juta lebih.

Kenyataan semacam ini makin diperparah dengan belanja modal yang harusnya digunakan untuk membiayai semua proyek fisik belum sampai setengah penyerapannya.

Dari target Rp 182,3 miliar, baru 40,51% yang digunakan. Kondisi semacam ini banyak menimbulkan spekulan warga. Ada yang menyimpulkan banyak perangkat daerah tak serius merealisasikan program untuk kepentingan serapan anggaran.

Tapi ada juga yang mengatakan lambannya serapan anggaran lantaran banyak dana transfer daerah yang tertahan. Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan itu semua?

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Denny Kaawoan menjelaskan, pihaknya baru selesai melakukan pembahasan  evaluasi serapan anggaran triwulan III.

Dalam evaluasi tersebut, Kaawoan menyebut, salah satu point kendala resapan anggaran belum maksimal karena keadaan ekonomi daerag yang sedang tidak stabil.

Nah itu sebab dalam pembahasan itu,  Bupati Tetty Paruntu telah meminta seluruh jajaran perangkat daerah fokus menggenjot serapan anggaran pendapatan maupun belanja.

“Karena semua sedang fokus melakukan penyesuaian. Kita masih menunggu draft resmi finalisasi APBD-P baru bisa melihat capaian hingga bulan ini. Karena semua pengeluaran kan tergantung di situ,” ujar dia, kemarin.

Ditambahkan Kepala Bidang Akuntansi Hendri Simbar mengungkapkan, rendahnya serapan anggaran fisik diakibatkan lambatnya dana transfer pusat ke daerah. Selain itu, banyak proyek yang sudah selesai tapi belum dibayarkan.

“Khusus di fisik, penundaan tender akibat perubahan juknis sering terjadi sehingga ikut berdampak pada pengeluaran anggaran,” jelasnya.

Hanya saja, Simbar mengaku optimis target serapan bisa tercapai hingga akhir tahun. Dana silpa senilai Rp 17 miliar sisa dari APBD, tahun lalu, tidak boleh terulang.

“Semua tergantung perangkat daerah. Tapi, pimpinan daerah telah berulang kali memberi ultimatum jadi tidak mungkin tidak ditindaklanjuti,” ujarnya optimis.