SMS GMIM ke-79 Jangan Bungkam, Tinjau KPPSG Makasili

Manado, Nyiurtimes.com – Sidang Majelis Sinode (SMS) GMIM ke-79 yang akan berlangsung Senin sampai Jumat (19-23) Maret di Manado mendapat desakan elemen Pemuda GMIM juga warga jemaat, yang meminta agar komponen SMS ke-79 meminta meninjau kembali hasil konsultasi pelayanan pemuda sinode gmim (KPPSG) yang dilaksanakan di Jemaat GMIM Makasili Kumelembuai Minahasa Selatan.

Salah satu perwakilan pemuda GMIM Penatua Rendy J Rompas selaku Ketua Pemuda Jemaat Baitel Girian serta Ketua Pemuda Wilayah Bitung 3, menilai sangat tepat bila SMS GMIM ke-79 meninjau hasil tersebut.

Dijelaskan Rompas terhadap kronologis ketidakberesan saat KPPSG itu.

Diuraikannya, padahal telah melayangkan surat keberatan dari hasil pemilihan yang berdasarkan pengesahan ketua KPPSG dimeja persidangan dengan jumlah peserta 856 belum termasuk 8 (delapan) KPPSG dan 6 (enam) peserta tambahan dan jumlah hasil akhir pemilih 911 suara.

Bukan hanya, dimana pimpinan sidang saat itu lewat ketukan palu telah membatalkan proses pemilihan ketua terpilih dengan alasan bahwa mekanisme yang di jalankan keliru.

Tetapi kembali pimpinan sidang menyampaikan bahwa proses di lanjutkan setelah BPMS hadir dan berdiskusi dengan pertimbangan walau mekanisme yang di jalankan keliru tapi mengambil pertimbangan dengan resiko paling kecil pemilihan harus dilanjutkan.

Lanjut diuraikan, seiring berjalan waktu pada selasa, 6 Maret 2018 kami melayangkan Surat Keberatan Pemilihan Kepada BPMS dan pada kamis 8 Maret kami di panggil untuk menjawab surat keberatan yang dalam pertemuan itu dihadiri perwakilan BPMS, Ketua KPPSG, panitia penyelenggara dan Panlok.

Tapi panitia lokal pada petemuan tidak diberikan kesempatan bicara.

Segalah argumen dikemukakan, hasil selisih angka yang menjadi subtansi permasalahan dari 856 menjadi 911 tidak di jawab dengan memperlihatkan data yang mencocokkan data manual, siapa penguna barcode dan barcode yang tidak terpakai.

Dari situ ternyata 1.013 barcode yang di cetak, 944 yang mendaftar dikantor sinode,
856 disahkan sebagai pemberi suara ditambah 8 (delapan) KPSG dan 6 dengan jumlah 870.

Perbedaan pula jumlah 911 pemberi suara, 85 sisa barcode yang di kembalikan saat itu oleh panlok tanpa berita acara penyerahan, semua angka yang di ucapkan saat pertemuan tidak sinkron jika ditambahkan.

Menurut perwakilan BPMS ini hanya kekurangan mekanisme, ungkap Penatua Rompas menirukan penyampaian BPMS, sedangkan pimpinan sidang mengatakan ini hanya kekeliruan mekanisme.

“Akibat kebuntuan untuk kebenaran demokrasi iman. Ini tanggung jawab kita bersama sebagai Pemuda GMIM untuk membuka kebenaran, sebab kekritisan pemuda GMIM tidak dapat dipandang sebelah mata, apalagi cara seperti itu dilingkup organisasi grejawi yang semestinya wajib hukumnya dilaksanakan semua pemangku di lingkungan gereja termasuk jemaat didalamnya adalah pemudaā€¯, ujar Ketua pemuda gmim wilayah Bitung III. (**)