Santi! Senjata Khas Tou (orang) Minahasa

Minahasa, nyiurtimes.com – Baru – baru ini di salah satu postingan medsos di hebohkan dengan Fenomena senjata khas Minahasa “Santi” (parang, pedang). Di sinyalir kalo senjata yang selalu di pakai para Waraney sangat mirip sekali dengan beberapa senjata khas yang ada di sekitar tanah Minahasan Sulawesi Utara. Seperti “kampilan” dari Mindanau, “Mandau” dari dayak dan “Parang nenek moyang” dari Toraja, serta senjata dari daerah Timor dan Maluku.
Di telusuri oleh media ini berkaitan dengan postingan tersebut dengan mendatangi pemerhati sekaligus Pelaku Budaya Minahasa Tonaas Rinto Taroreh, yang memang sudah sangat menyayangkan karena berbagai opini publik sudah muncul sampe komentar egosentris sangat menyudutkan.
“Jadi pada dasarnya Santi itu ada 3 macam menurut penuturan, penglihatan serta pengalaman saya berjalan yaitu pertama ‘Taradu’ (sekali tebas), santi atau pedang ini dipakai di upacara ‘mangayou’ atau ‘sumayou’ (mengambil kepala) . Contohnya apabila di suatu daerah di Minahasa terjadi kemaru panjang dan semua mata air mati maka dilaksanakanlah upacara ini dan mamuis (algojo) yang disebut untuk sumayou akan dipakai dalam acara ‘mangelep’ (minum darah) dan yang di pakai sang algojo itu adalah ‘Santi Tarandu’.

Yang kedua adalah santi ‘lolambot’ (pedang panjang), santi ini khusus untuk pertarungan terbuka, biasanya dipakai para Waraney untuk berperang, di buat lebih panjang dan lebih tipis dari Tarandu agar memudahkan perajurit untuk menggunakannya dan perisai di atas gagang pedang ini sengaja dibuat melintang fungsinya agar dapat menjepit senjata musuh ketika terdesak.

Dan yang ketiga santi yang di sebut “kowit” (pedang jepit). Alasannya ketika para walian atau pembesar Minahasa membawa senjata ini hanya untuk keperluan jaga – jaga apabila dalam perjalanan jauh atau pertemuan besar dan biasanya senjata ini hanya di jepitkan di antara lengan dan badan tapi ada juga yang menaruhnya di ‘woka’ (janur yang telah mengering). Fungsinya memang hanya khususuntuk berjaga – jaga terhadap orang ataupun binatang jahat”. Jelas Taroreh.

Di tambahkannya juga kalo santi bukan cuma 3 macam itu yang berada di tanah minahasa tapi lebih dari 11 macam menurut nama dam kegunaannya masing – masing.

Di hubungi terpisah oleh nyiurtimes.com, pengrajin Santi terkenal asal Warembungan Roy Pudihang Khatiandago memberikan Alasannya kenapa santi memang berasal dari tanah Minahasa.
“saya sendiri sudah bepergian sampai ke davao Philippine, sebelumnya memang sempat singgah di sanger besar. Saya mau tegaskan kalo pedang (kampilan dalam bahasa tagalog berarti pedang) yang ada di museum davao itu bukan asli senjata khas Mindanao tapi bawaan orang – orang spanyol pada zaman penjelajahan bangsa – eropa. Dan itu di akui oleh masyarakat disana”. Tegas Roy di sela – sela pekerjaannya sedang mengukir simbol khas Tonsea. Menurut penuturan masyarakat di sana, bangsa eropa datang untuk meminta bantuan perang kepada Raja Lapu – lapu, pemimpin kerajaan Mindanao zaman itu untuk menyerbu “ponta de celebres” (surga para orang termasyur) #minahasa pada era Abad 16 – 17 di zaman penjelajahan Maghelhais atau Magelan penjelajah dunia selatan. Dan alhasil dari penyerbuan ini mendapat jarahan perang termasuk santi yang beberapa berada di museum davao tapi akhirnya juga sang raja sendiri tewas di atas Santi Minahasa. Dan menurut penuturan masyarakat sekitar davao peristiwa itu memang terjadi. Jelas Roy mantap.

Jadi pada hakikatnya semua mempunyai cerita. Dan pemaknaan mengenai santi atau senjata khas Minahasa adalah dari mana cara kita untuk melihat dan mempergunakan bukan mempersoalkan NAMA atau MODELNYA. Santi lebih kepada makna penggunaan. Senjata ini hanya di pakai apabila keadaan memang sudah mendesak, bukan untuk pamer, bukan untuk gaya – gayaan, sebab kalo ada orang yang sudah mengangkat santi berarti sudah ada yang harus terputus, tepotong ataupun terbelah dua! (bersambung).