Sah! Kolom Penghayat dalam KTP Republik Indonesia

Kolom Penghayat dalam KTP Republik Indonesia

Minahasa,nyiurtimes.com- Setelah di loloskan pada tanggal 7 november 2017 oleh Mahkamah Konstitusi. Rencana pemerintah untuk mencantumkan kolom Penghayat pada Kartu Tanda Penduduk sangat mendapat tanggapan positif dari masyarakat khususnya para intelektual dan praktisi- praktisi budaya Sulawesi Utara.

Pada dasarnya Republik Indonesia terdiri dari ribuan suku dan etnis, dan hampir seperempat masih memeluk aliran tradisi dan memelihara tradisi leluhur masing- masing. (penghayat)

“Pencantuman kolom penghayat dalam KTP memiliki makna sangat penting dalam kehidupan kaum penghayat karena memberikan dasar bagi akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan dan pekerjaan terhadap kaum penghayat”.Jelas Fredy Wowor. SS, salah Satu Budayawan Sulawesi Utara

Hampir selama pemerintahan berdiri kaum penghayat sangat tidak di hargai atau lebih bahkan di katakan Animisme dan tidak mendapat tempat di republik ini. Tapi melalui ratusan kajian dan ribuan penelitian, yang tentunya di dukung oleh betapa pentingnya memelihara tradisi leluhur dimanapun kaum penghayat berada membuktikan kalau kaum penghayat juga punya kapabilitas setara dengan aliran kepercayaan di Indonesia. Tambah Dosen Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi ini.

Di temui nyiurtimes.com juga di sela-sela kesibukannya Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) wilayah Sulawesi Utara, Lefrando Gosal. M.Teol sangat mengapresiasi pemerintah.

“Inti agama itu cuma tiga, pertama relasi manusia dengan sesama kemudian relasi manusia dengan alam dan relasi manusia dengan Sang Pencipta. Terkait putusan MK, itu soal hak konstitusional setiap warga negara. Dimana setiap warga negara berhak beragama dan berkeyakinan sesuai dengan apa yang ia imani dan yakini”. Tegas Gosal yang kesehariannya beraktivitas di wilayah adat Sulawesi dan pemerhati kaum yang termarjinal.

Selama bertahun-tahun di negara ini, terlanjur meminggirkan agama-agama asli bahkan mendiskriminasi. Sekarang negara harus jadi wadah bersama untuk saling mengkui dan menghargai. Pungkas Tuama kelahiran Tondano Minahasa ini. *(CdR)