Ribuan Pelayat, Sarian Taroreh Dimakamkan Bak Prajurit Tradisional

Tomohon, Nyiurtimes.com – Stevanus Fanny Taroreh (32) atau yang lebih di akrab “Boy Taroreh” korban tabrakan maut di ruas jalan Manado-Tomohon telah di kebumikan kemarin sore. Sarian Kawasaran (Pemimpin Kawasaran) di makamkan melalui proses Adat Minahasa setelah selesai Ibadah Misa Requiem yang di pimpin oleh Pr. Petrus Tinangon di rumah duka kelurahan Paslaten Tomohon.

Ratusan partisipan dari seluruh komunitas Kawasaran, Ormas Adat, Pemerhati Budaya, Akademisi bahkan sahabat, handai taulan di Sulawesi Utara turut menghadiri acara duka cita ini selain untuk menghantar sahabat mereka ke peristirahatan terakhir juga untuk mengikuti acara Adat penghormatan terakhir almarhum sebagai sebagai seorang Waraney (pelindung negeri).

“Wujud tradisi budaya Kawasaran yaitu mengembalikan fungsinya yaitu sebagai pelindung negri, dalam arti pengantara, pembuka acara, penutup acara bahkan berfungsi untuk membawa orang ke peristirahatan terakhir”. Kata Fredy Wowor di sela- sela acara pemakaman.

Ditambahkannya juga bahwa filosofi manusia sebagai yang terlahir, hidup bahkan ketika akan kembali kepada Tuhan akan di jaga oleh pelindung negri ini (Kawasaran).

Dalam prosesi ini karena yang bersangkutan adalah pelaku Budaya adalah suatu kehormatan ketika pemakamannya dihantar langsung oleh kelompok Kawasaran. Tegas Budayawan, Akademisi di Sulawesi Utara ini.

Tonaas Rinto Taroreh juga yang memimpin Upacara Penghormatan Terakhir ini dengan sangat berwibawa tapi tidak dapat menyembunyikan kesedihannya berusaha menjawab pertanyaaan dari nyiurtimes.com

“Saya sangat- sangat kehilangan, kehilangan seorang adik, saudara, sahabat, sesama pelaku budaya”. Kata Taroreh Dengan ketegaran hatinya.

Untuk prosesi upacara ini di hantar oleh “Ritual Mauri” secara umum ritual ini untuk orang- orang yang kembali pulang kepada yang Maha Kuasa, terlebih khusus Waraney di nyanyikan “kumoyak”.

Kumoyak adalah (nyanyian jiwa) untuk menghantar kepulangan Sang Waraney kembali kepada Sang khalik. Waraney adalah pelindung tanah, pelindung kehidupan, siapapun yang memiliki semangat ini dia layak di hantar oleh Kawasaran, layak di nyanyikan kumoyak.

Tegas Pemimpin Kawasaran Waraney Wuaya dan Mentor Adat dan tradisi Budaya Minahasa di Sulawesi utara bahkan Nasional ini.

“Saya atas nama pengurus besar Ormas Adat Makatana Minahasa mengucapkan turut berbela sungkawa kepada keluarga yg di tinggalkan. Sosok Boy Taroreh bagi kami adalah seorang yang supel, mudah bergaul dan sangat ramah kepada siapapun, beliau selalu berpartisipasi dimanapun komunitas adat kami (Makmin) melakukan kegiatan”. Kata Alvis Metrico Sumilat, Ketua Umum Ormas Makatana Minahasa.

“Kami mewakili Ormas adat LBM (Loyot Bersatu Makasa) dan Komunitas Waraney Sambalean mengucapkan turut berduka cita. Selamat jalan Boy Waraney, yang baik hati selalu bersama- sama dalam melakukan kegiatan. Susah dan senang di hadapi bersama, terima kasih atas sharing dan masukan – masukan untuk ormas LBM dan Waraney sambalean”. Ucap Christian Palit, Ketua Umum Ormas Loyot Bersatu Makasa dan komunitas Waraney Sambalean.

“Turut berduka cita kepada keluarga yang di tinggalkan, kiranya duka cita ini akan di gantikan dengan suka cita dari Tuhan. Saya pribadi sangat kehilangan seorang sahabat”. Tutup Henro Mark Rompas. Ketua Makatana Minahasa Pakasaan Bitung, seorang pengrajin kerajinan tangan budaya Minahasa sekaligus sahabat baik dari Almarhum. Selamat jalan Kawan. “Wewean se mawia wewean se mawuri”. *(CdR)