PPK Sebagai Fondasi Pendidikan dalam Merevitalisasi dan Memperkokoh Ekosistem Pendidikan di Indonesia

OLEH: Christian Wahyu Lasut, S.Th., MA., M.Th

Instruktur Kurikulum 2013Guru SDN Watutumou IIDosen STT Kalvari Manado

Pendidikan yang menitik beratkan pada kognitif saja, sejatinya mengalami ketidakseimbangan ditengah peradaban yang modern. Mengapa? Kognitif dirasa kurang, selain kognitif perlu adanya afektif dan psikomotor. Pengetahuan bisa didapat dalam berbagai cara yaitu melalui pendidikan formal, private dan lain – lain. Tapi jika tanpa penguatan karakter peserta didik, maka karakter tidak baik dan akan berdampak terjadinya degradasi moral. Hal ini perlu mendapat perhatian yang serius sehingga perlu ada revitalisasi dalam implementasi pendidikan. Rvitalisasi ini terlihat dalam pelaksanaan Penguatan Pendidikan (PPK) Karakter diwujudkan melalui kegiatan intrakurikuler yang merupakan proses kegiatan pembelajaran untuk memenuhi beban belajar kurikulum. Selanjutnya, kokurikuler sebagai bagian proses penguatan, pengayaan, pendalaman dalam kegiatan intrakurikuler; kemudian ekstrakurikuler sebagai sarana pengembangan bakat, potensi, minat, kemandirian, kerjasama peserta didik. Ekstrakurikuler juga menjadi bagian dalam pengembangan karakter peserta didik. Gerkebudayaankebudayaanakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebuah gebrakan dari pemerintah dalam konteks pendidikan yang dirasa ampuh dalam menanamkan nilai-nilai karakter pesertadidik.

PPK memiliki tujuan yaitu : Mengembangkan platforma pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan, dengan memperhatikan kondisi keberagaman satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

A. Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.

B. Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik).

C. Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter

D. Membangun jejaring pelibatan publik sebagai sumber-sumber belajar di dalam dan di luar sekolah.

E. Melestarikan kebudayaankebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Secara yuridis dan rasional :

a. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

b. Agenda Nawacita No. 8 Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.

c.Trisakti Mewujudkan Generasi yang Berkepribadian dalam Kebudayaan.

d. RPJMN 2015-2019 “Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”

e. Mempersiapkan Generasi Emas 2045 yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.

f. Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud untuk memperkuat pendidikan karakter. Hal inilah yang menjadi tantangan pendidikan saat ini.

a. Optimalisasi pengembangan potensi siswa secara harmonis melalui keseimbangan olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik), dan olah raga (kinestetik)

b. Besarnya populasi siswa, guru, dan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia c. Membangun sinergi dan tanggungjawab terhadap pendidikan karakter anak antara sekolah, orang tua dan masyarakat

d. Tantangan Tantangan globalisasi Memperkuat kemampuan beradaptasi terhadap perubahan melalui penumbuhan nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa

e. Terbatasnya pendampingan orang tua perlu peningkatan kualitas hubungan orang tua dengan anak di rumah dan lingkungannya

f. Keterbatasan sarana belajar dan infrastruktur Keterbatasan prasana dan sarana sekolah, aksesibilitas dan sarana transportasi ke sekolah (jalur lembah, hutan, sungai, dan laut), sehingga PPK perlu diimplementasikan bertahap. PPK sebagai poros pendidikan hal ini merujuk pada Nawacita 8: Melakukan Revolusi Karakter Bangsa Membangun pendidikan kewarganegaraan (sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti) 1. Penataan kembali kurikulum pendidikan nasional 2. Mengevaluasi model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional 3. Jaminan hidup yang memadai bagi para guru khususnya di daerah terpencil 4. Memperbesar akses warga miskin untuk mendapatkan pendidikan. “Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan.” Ada lima karakter utama yang kemudian di terapkan dan dimunculkan dalam proses pembelajaran melalui rancangan RPP Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas. PPK juga merupakan “Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan.” Nilai-nilai karakter juga dapat dikembangkan menjadi Religius Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab,(dan lain-lain). PPK sangat penting dalam menanamkan etika serta norma-norma yang luhur juga sebagai fondasi pendidikan dalam merevitalisasi dan memperkokoh ekosistem pendidikan di Indonesia. (sumber lain:materi penyegaran IK K13 LPMP sulut)