POLITIK KEMANUSIAAN NABI ISA

Oleh : Dr Ferry Liando

Nyiurtimes.comPEKAN ini seluruh umat kristiani di seluruh dunia merayakan hari kelahiran Yesus Kristus 25 Desember 2017. Bagi umat nasrani, kelahiran Nabi Isa ini merupakan bukti kasih Allah atas setiap umat ciptaanNya. Atas kasih itu sehingga Ia mengutus AnakNya yang tunggal supaya manusia bebas dari kebinasaan dan memperoleh hidup yang kekal.

Hingga kini namaNya tetap dikenang. Pertama, Ia adalah seorang pengajar, menuntun orang pada jalan yang benar dan memberikan teladan bagi orang-orag disekitarnya. Kedua, Ia menyembuhkan orang sakit, menghibur mereka yang terluka, memberi makan banyak orang serta membela mereka yang diperlakukan tidak adil. Ketiga, Ia tidak memandang pihak yang menentangnya sebagai musuh. Nabi Isa mengajarkan “kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barang siapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipi yang lain. Lukas 6:27-29.

Keempat, Nabi Isa tidak terbuai pada jabatan atau kekuasaan politik. Dikisahkan oleh penulis Yohanes bahwa…..Karena itu, ketika Yesus tahu bahwa mereka akan segera datang dan hendak membawanya dengan paksa untuk menjadikannya raja, Ia sekali lagi mengundurkan diri ke gunung sendirian…….. (Yohanes 6:15).
Meski tidak melekat kekuasaan politik, namun bukan berarti Nabi Isa mengabaikan tanggungjawab politknya, terutama politik kemanusiaanya. Dalam hal penindasan dikisahkan “Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,……..untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,” (Lukas 4:18-19).
Politik kemanusiaan Yesus bagi orang miskin, disebutkan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). “Juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga…” (Matius 18:22). Pada hari penghakiman nanti, sikap terhadap orang miskinlah yang menentukan masuk tidaknya seseorang ke dalam hidup kekal (Matius 25:31:46).
Sikap politik dengan tidak memandang status seseorang diteladankan juga oleh Yesus. Hal tersebut terungkap ketika terjadi pertemuan antara Yesus dengan Perempuan Samaria (Yoh 4).

Kebiasaan waktu itu bahwa orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria. Orang Israel sangat menganggap rendah orang Samaria bahkan ada tradisi, jikalau salah seorang dari anggota keluarga menikah dengan orang Samaria maka keluarga akan mengadakan kebaktian perkabungan, berarti ia dianggap telah mati.

Sikap politik Yesus terhadap keadilan, tergambar pula dalam Yohanes 8:7….. Siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia dahulu melempar batu kepada perempuan ini.” Terhadap hak dan kewajiban warga Negara, Yesus menyatakan sikap politiknya. “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (Markus 12:17)
Politik masih dipandang secara bervariasi. Bagi kaum awam, politik diidentikan dengan kekuasaan, korupsi, saling menjatuhkan, menghalalkan segala cara dan praktek-praktek kecurangan lainnya. Gereja sendiri terpecah dalam memandang politik itu, ada kelompok yang memandang politik itu sekuler yang bersifat duniawi sehingga kehidupan politik harus terpisah dengan kehidupan gereja (bersifat sakral). Sementara kelompok lain memandang perjuangan politik itu sama dengan perjuangan gereja. Kelompok yang lain memandang pula bahwa politik itu sebagai sarana untuk memperjuangkan misi gereja.

Gerakan kemanusiaan yang merupakan misi gereja tidak bisa mencapai tujuan apabila tidak bisa memperjuangkannya secara politik. Kemudian pandangan kaum intelektual sendiri memahami politik itu sebagai bagian dari tanggungjawab masyarakat (gereja) sebagai warga negara.
Secara etimologis, politik berasal dari kata Yunani polis yang berarti kota atau negara kota. Kemudian makna itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara, politika yang berarti pemerintahan negara dan politikos yang berarti kewarganegaraan.
Aristoteles (384-322 SM) menyebut manusia sebagai zoon politikon. Ia memandang kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Baginya politik itu tidak dapat dihindari manusia.
Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara.
Dalam pandangan politik kemanusiaan, Yesus memiliki peran yang sangat besar memberikan pencerahan politik dan pendidikan politik yang luar biasa. Tetapi Yesus berpolitik bukan sekedar untuk membangun citra atau mendapatkan kekuasaan politik walaupun peluang untuk medapatkan itu sangat besar. Dia memberi makan lima ribu orang (belum termasuk perempuan) dan keberpihaknya kepada kaum lemah, miskin dan tertindas.Tindakan-tindakan itu membuat Ia disegani banyak orang (voters) dan pengikutnya sangat banyak.
Ambisi warga gereja untuk melayani pada medan politik kekuasaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, asalkan misi politiknya tidak bertentangan dengan misi gereja yaitu politik kemanusiaan, welfare state.
Pada dasarnya politik itu merupakan sebuah kebutuhan mendasar bagi gereja, sebab tidak hanya dipandang bagaimana gereja diperlengkapi dan diproses kemampuan kepemimpinannya, tetapi juga politik harus dipandang bagaimana gereja harus bersikap dan berkontribusi terhadap kondisi sosial politik dan pemerintahan dewasa ini. Selama politik itu dipandang dalam rangka kesejahteraan banyak orang, maka politik itu tidak boleh dihindari, tapi politik itu harus menjadi sebuah kewajiban bagi warga gereja. Jika cita-cita politik itu mulia, maka cita-cita itu sama persis dengan cita-cita gereja.