Peran Guru Profesional Terhadap Konstruksi Pengembangan Pendidikan Karakter

OLEH: Meylany S. M. Turang, S.Pd SD Negeri 06 Manado Jl. Sarapung No. 24. Kel. Wenang Utara. Kec. Wenang. Kota manado

SISTEM pendidikan Nasional telah diatur dalam Pasal 1 Butir 1 UU No. 20/2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan: “Pendidikan adalah Usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”

Profesi guru merupakan tugas mulia dimana guru memiliki tanggung jawab mendidik, dan menanamkan nilai-nilai luhur tentang religius, kehidupan bersosial, peningkatan kognitif, berahklak mulia dan hidup dalam tatanan etika yang baik.

Guru diperhadapkan dengan tantangan yang komplek, mengapa? Karena sejatinya guru mendidik mahkluk hidup yang kemudian tumbuh seiring dengan pengetahuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, penanaman konsep dasar tentang afektif, psikomotorik dan kognitif menjadi penting. Guru adalah merupakan profesi penting dalam mengembangkan kepribadian peserta didik dan religiusitas. Oleh sebab itu guru harus mengambangkan kompetensinya hingga menjadi guru yang professional.

Menurut Nuni Y. S. (2013:53) “peran guru adalah serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan, yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta hubungannya dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan anak didik yang menjadi tujuannya. Ini artinya, tujuan utama dari tugas seorang guru adalah mengubah tingkah laku anak didik kearah yang lebih baik”. Masykur A. R (2011:10) menambahkan, “guru dituntut harus professional mengingat peran guru yang begitu besar dan sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Guru professional adalah guru yang mampu meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi dalam kegiatan belajar–mengajar.” Seorang guru harus terus mengembangkan kemampuannya, dan terus diperlengkapi dengan pengalaman baru dan tidak pernah berhenti belajar serta memenuhi “asupan pengetahuan”.

Masykur A. R (2011:10) menyatakan, “secara konkret, keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari keberhasilan muridnya dalam proses belajar mengajar.” Menurut Nuni Y. S. (2013:56) menambahkan, “guru pada prinsipnya merupakan suatu profesi yang mempunyai keahlian tertentu, dimana masyarakat menempatkannya pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya, karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan.” Sedangkan menurut Suparlan (2005:19) “sebagai tenaga professional, guru memang dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (occupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus, seperti dokter, insinyur, tentara, wartawan, dan bidang pekerjaan lainnya yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. Dalam bahasa Sansekerta, guru berarti seorang yang dihormati.”

Terkait dengan konstruksi pengembangan pendidikan karakter, guru itu “digugu dan ditiru” artinya bahwa seorang guru menjadi panutan dan teladan, serta guru itu di contoh dan ditiru. Berangkat dari uraian tersebut maka, profesionalisme seorang guru tidaklah hanya berdasarkan kemampuan pada aspek pengetahuan, melainkan seorang guru juga harus memimiliki sikap yang professional, menjunjung itegritas, sehingga dapat “digugu dan ditiru.”

Pengembangan pendidikan karakter salah satu aspek yang diseriusi oleh pemerintah khususnya bidang pendidikan. Penguatan penddikan karakter terus digaungkan oleh pemerintah, dan sebagai pendidik yang professional penguatan pendidikan karakter menjadi cara ampuh dalam mengembangkan pendidikan karakter. Mengembangkan bakat yang dimiliki peserta didik, menyediakan wadah untuk berkompetisi, dan melibatkan siswa pada berbagai kegiatan. Ini penting! Untuk menamkan karakter disiplin, pedulis sosial, integritas, sikap Nasionalis, demokratis, mandiri, religius, perca diri, gotong royong, dan lain sebagainya. Ada 5 (lima) karakter utama yang haru di implentasikan dalam penguatan pendidikan karakter yaitu: Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong royong, Integritas. Dengan demikian, konstruksi pengembangan pendidikan dapat diaplikasikan sebagai bentuk profesionalisme seorang guru.

Daftar rujukan
Masykur Arif Rahman. 2011. Kesalahan-kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. Jogjakarta. Diva Pres

Nuni Yusvavera Syatra. 2013. Desain Relasi Efektif Guru dan Murid. Jogjakarta. BUKUBIRU

Suparlan, M.Ed. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta. Penerbit Hikayat Publishing