PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK) UNTUK DILAKUKAN!

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK) UNTUK DILAKUKAN
Oleh: Christian W. Lasut, S.Th., MA., M.Th
Seorang Penulis buku, Guru, Dosen, Instruktur K13
Email:gabryeljhonatanpaskah@yahoo.com

SALAH satu butir Nawacita Presiden Joko Widodo adalah memperkuat pendidikan karakter bangsa. Presiden Joko Widodo ingin melakukan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang akan diterapkan di seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di dalam dunia pendidikan.

Pendidikan karakter sudah pernah diluncurkan sebagai gerakan nasional pada 2010. Namun, gema gerakan pendidikan karakter ini belum cukup kuat. Karena itu, pendidikan karakter perlu digaungkan dan diperkuat kembali menjadi gerakan nasional pendidikan karakter bangsa melalui program nasional Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Lembaga pendidikan menjadi sarana strategis bagi pembentukan karakter bangsa karena memiliki struktur, sistem dan perangkat yang tersebar di seluruh Indonesia dari daerah sampai pusat.

Pembentukan karakter bangsa ini ingin dilaksanakan secara masif dan sistematis melalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang terintegrasi dalam keseluruhan sistem pendidikan, budaya sekolah dan dalam kerja sama dengan komunitas. Program PPK diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar dan membuat peserta didik senang di sekolah sebagai rumah yang ramah untuk bertumbuh dan berkembang.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kelanjutan dan revitalisasi gerakan nasional pendidikan karakter yang telah dimulai pada 2010.

Gerakan penguatan pendidikan karakter menjadi semakin mendesak diprioritaskan karena berbagai persoalan yang mengancam keutuhan dan masa depan bangsa seperti maraknya tindakan intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang mengancam kebinekaan dan keutuhan NKRI, munculnya gerakan-gerakan separatis, perilaku kekerasan dalam lingkungan pendidikan dan di masyarakat, kejahatan seksual, tawuran pelajar, pergaulan bebas dan kecenderungan anak-anak muda pada narkoba.

Ada 3 penjabaran PPK; 1) PPK berbasis kelas; Pembelajaran adalah wahana yang dirancang oleh pendidik secara sadar untuk mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran terwujudkan dalam interaksi belajar-mengajar yang dinamis dan diarahkan kepada pencapaian tujuan, yaitu perubahan perilaku dan pribadi peserta didik yang optimal. Perubahan yang terjadi pada peserta didik itu ditampilkan dalam karakter, sebagai perilaku yang dilandasi nilai-nilai kehidupan yang sangat luhur. Setiap proses pembelajaran melibatkan mata pelajaran tertentu atau tema yang sedang dilaksanakan, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, serta pengelolaan kelas. 2) PPK berbasis budaya sekolah; Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah memotret berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan peraturan dan regulasi yang mendukung PPK. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter karena dapat memberikan atau membangun nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Budaya sekolah yang baik diharapkan dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih baik. Contoh kegiatan yang dapat dikembangkan dalam membangun budaya sekolah adalah 1) pembiasaan dalam kegiatan literasi; 2) kegiatan ekstrakurikuler, yang mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK, dan 3) menetapkan dan mengevaluasi tata tertib atau peraturan sekolah. Budaya sekolah yang baik dapat mengembangkan iklim akademik yang kompetitif dan kolaboratif, yang diperlukan sekolah dalam menetapkan atau memperkuat branding sekolah. 3) PPK berbasis masyarakat; Berbagai studi yang terkait peran masyarakat dalam pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan (pendidikan karakter) bergantung pada kemitraan yang sinergis antara para pelaku pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pondasi pendidikan karakter sebagaimana digarisbawahi oleh Ki Hajar Dewantara diletakkan oleh keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama. Peraturan Presiden No. 87 tahun 2017 tentang PPK, memiliki Nilai Pancasila dalam pendidikan karakter yang lima unsur karakter utama yaitu sebagai berikut:1) Religiusitas dalam beriman, bertaqwa, toleransi dan cinta lingkungan. 2) Nasionalisme , cinta tanah air, semangat kebangsaan dan menghargai kebinekaan. 3) Kemandirian, kerja keras, kreatif, disiplin, berani dan pembelajar. 4) Gotong royong, kerja sama, saling menolong, dan kekeluargaan. 5) Integritas, kejujuran, keteladanan, kesantunan, dan cinta pada kebenaran.

Penguatan Pendidikan Karakter merupakan kunci pembentukan karakter pesertadidik. PPK bisa dipastikan menjadi oase bagi pendidikan untuk melihat anak didik yang memiliki karakter, sopan satun, moral serta kepribadian yang baik dan disenangi. Pada hakekatnya, pendidikan memiliki tujuan untuk membantu manusia menjadi cerdas dan tumbuh menjadi insan yang berbudipekerti luhur. Dalam rangka mempersiapkan Generasi Emas 2045, pemerintah menguatkan karakter generasi muda agar memiliki keunggulan dalam persaingan global abad 21. Selain lima nilai utama karakter, melalui PPK, pemerintah mendorong peningkatan literasi dasar, kompetensi berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi generasi muda.

Bagaimana tugas dan peran guru serta kepala sekolah dalam implementasi PPK? Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran di kelas dan mampu mengelola manajemen kelas. Kepala Sekolah dapat mendesain budaya sekolah yang menjadi ciri khas dan keunggulan sekolah tersebut. Lalu, Sekolah mampu mendesain pelibatan publik guna meningkatkan peran orang tua dan masyarakat. Berdasarkan uraian diatas maka PPK hakekatnya untul dilakukan. PPK tidak hanya menjadi sebuat teori belaka, melainkan berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotongroyong dan integritas. PPK menjadi hidup dan membudaya jika terus diterapkan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

Rujukan:
http://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/ diakses 21/05/2018
Modul PPK Instruktur K13 LPMP Sulut 2017.