Pak Gubernur! Proyek Perbaikan Asrama Mahasiswa Sulut di Bandung Cah Beres : Biro Infrastruktur Yang Beking

Manado,Nyiurtimes.com–Fakta mencerminkan Biro Infrastruktur pengadaan barang dan jasa pemprov Sulut praktis tak serius melakukan renovasi atap asrama mahasiawa Sulut di Bandung. Proyek berbandrol Rp200 juta itu, mestinya mutlak cukup melakukan perbaikan atap asrama yang sudah rusak dan bocor termakan usia. Tapi kenyataannya aneh bin ajaib. Bukan nampak bagus nan indah. Tapi kondisi asrama justru terlihat tak ada perubahan. Makin memprihatinkan. Bak tenda pengungsi yang sisi tertentu ditutupi terpal.

  1. kondisi asrama usai dikerjakan. Bukan nampak bagus, malah tambah berantakan.

Itu menyeruak usai visitasi yang dilakukan Gerakan Angkatan Muda Indonesia (GAMKI) Manado saat berdiskusi dengan mahasiswa asal Sulut. Nah kondisi semacam ini, menurut Ketua GAMKI Manado Fransiskus Enoch menimbulkan tanda tanya besar di benak penghuni asrama. Malah para mahasiswa asal Sulut ini, mengaku kesal dan benar-benar kecewa, dan cuma bisa mengelus dada. Bagi para intelek kawanua ini, kata Enoch pemprov Sulut seharusnya tidak membiarkan tanpa ada pengawasan terhadap para pekerja (tukang) yang melakukan perbaikan atap. Apalagi menurut mereka model pekerjaan proyek tersebut tak jelas siapa penanggung jawabnya. Entah itu menggunakan pihak ketiga atau tidak juga sulit ditebak. Sebab di lokasi memang tak ada papan proyek. Padahal sebelumnya, ia menjelaskan pihak pemprov Sulut yang diwakili Kepala Bagian Infrastruktur Jerry Kumendong, Irene E. Tumiwa dan Susan Mamahit, bersama-sama dengan sejumlah legislator Deprov Sulut. Yakni, Wakil Ketua Stefanus Vreeke Runtu, Adriana Dondokambey, Amir Liputo, Edyson Masengi, Ayub Albugis, Felly Runtuwene, Boy Tumiwa, dam Yongky Limen mengadakan pertemuan dengan penghuni asrama perihal renovasi asrama tersebut. “Jadi seingat rekan-rekan mahasiswa itu, pertemuan di gelar pada Kamis, 19 Oktober 2017 silam. Pada saat itu, disampaikan agenda pengerjaan dimaksud. Dimana dalam perencanaannya dicantumkan ada dua item. Di antaranya renovasi atap dan perbaikan toilet. Dengan total anggaran mencapai Rp 200 juta. Yang pembagiannya Rp140 juta untuk atap dan Rp60 juta untuk toilet,” rinci Enoch. Tak cuma di situ saja, guna meyakinkan para penghuni asrama, pihak Pemprov pun menjamin bahwa proyek itu segarah direalisasikan. “Jadi memang RAB nya sudah ditunjukkan. Malah rincinnya menggunakan analisa harga satuan di Kota Bandung. Otomatis lebih murah kan,” jelasnya.

Namun sayangnya, pekerjaan yang dijanjikan dimulai pada, Senin (23/10/2017) silam itu (4 hari sesudah pertemuan dilangsungkan) nyatanya molor. Akibatnya sampai memasuki tahun 2018 pekerjaan tersebut tak kunjung selesai. Ketidakberesan proyek tersebut mulai nampak dalam proses pengerjaan. Dimana kondisi atap sempat dibiarkan terbuka sehingga mengakibatkan air hujan akhirnya merembes sampai kamar lantai satu. Hal tersebut terjadi pada dua sisi bangunan, yang akhirnya setelah beberapa kali dimintakan, oleh tukang akhirnya dipasangkan terpal walaupun tidak menutupi seluruh bagian atap yang terbuka. Selain mengakibatkan rembesan air dalam kamar lantai satu, hal tersebut mempengaruhi kondisi fisik kamar dilantai dua, plafon menjadi hancur, cat kamar meninggalkan kotoran dan korsleting instalasi listrik. Bahkan tak nampak ada papan proyek di lokasi. Artinya kita tak tahu proyek tersebut ditangani oleh pihak ketiga atau tidak. Ini namanya proyek siluman. Nah dalam kondisi semacam itu, penghuni asarama lalu dikejutkan dengan pernyataan sang pemborong pekerjaan itu. Bahwa pekerjaan sudah selesai.

“Sontak membuat semua penghuni asrama bingung. Lantas bertanya-tanya. Sebab memang secara kasat mata pekerjaan itu belum beres. Artinya masih ada bagian atap yang belum dikerjakan,” tandas mantan pimpinan pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.

Ia pun membeber Toilet sama sekali tidak dikerjakan. Sambil menambahkan selama pengerjaan tersebut dilaksanakan tidak pernah diawasi baik dari pihak pelaksana dan pihak pemerintah terkait. Beberapa informasi penting dan pertanyaan yang disampaikan oleh penghuni asrama kepada pihak dari bagian infrasturktur juga tidak mendapatkan respons balik termasuk pembersihan puing-puing sisa-sisa pekerjaan atap.

“Sebagai pengguna anggaran harusnya biro infrastruktur tanggung jawab dong. Jangan lepas tangan begitu saja. Kalau inipun tak digubris, kita akan menyampaikan langsung ke pak gubernur supaya segerah mengefaluasi hal-hala semacam ini. Sebab kadang kesalah semacam ini justru mencoreng nama baik pemprov,” kritik Enoch. (*)