Negri Maklentuai, Bukti Lahirnya Peradaban Tonsea Di Abad Ke 13

Airmadidi Nyiurtimes.com – Tumani atau Timani adalah arti dari pendirian sebuah Desa (Wanua, kampung) ataupun wilayah hidup dalam pengertian bahasa – bahasa lokal di Minahasa. Sejak dulu para leluhur selalu mencari daerah baru untuk di jadikan hunian ataupun sekedar berladang untuk kesinambungan hidup generasi mendatang.

Negri Maklentuai adalah salah satu Bukti dari adanya perdaban Tounsea Pertama.
“Melalui Ekspansi dan penyebaran Suku besar Malesung tua (baca Minahasa) yang terakhir menuju ke Utara tanah adat ini. Dan Kaliimbatu di sekitar gunung Makararang ini adalah Salah satu tempat strategis yang di pilih oleh para Penjelajah Malesung ini selain berada di antara dua sungai danau tondano dan sungai klabat melalui maklentuai Tempat ini juga Menurut perhitungan akan cukup sulit di tembus oleh pengganggu dari luar kelompok ini”. Jelas Tonaas Rinto Taroreh Salah satu Pelaku dan Pemerhati Budaya Minahasa.

Untuk Terjadinya penamaan tonsea karena adanya kesepakatan kelompok di perintahkan oleh Tetua lebih meminggir ke arah bukit utara (skima) sehingga pemukiman tetap berdiri di tanjung Maklentuai sampai sekarang. Ada bilangan dari orang Tua kalo boleh Torang lebe ba “sepi”, “ba sei”, “ba pinggir” (sumea) ke arah Utara dengan alasan menghindari luapan air sungai dan terhindar dari hama penyakit Sehingga kelompok (Awu) ini lama kelamaan menamakan kelompok ini Tounsea. Tambah Taroreh Yang adalah Pembina Kelompok Waraney Wuaya Minahasa asal Warembungan.

Bukti kuat juga yang menjadi akuratnya informasi ini adalah di temukannya “Watu Tinanian” atau Watu Tumotowa di sekitar area ini. Ini menandakan bahwa kelompok yang menjadi “tumontani” (orang yang menduduki suatu tempat) ini masih membawa tradisi yang berada dari kakak suku tertua Tontemboan yang apabila mendirikan/ membuka suatu wilayah menggunakan batu yang baik sebagai penanda, karena Pada era berikutnya Tumani orang Tonsea Hanya menggunakan Tawaang (sejenis tumbuhan endemik Minahasa).

“Kami hanya salah satu Penerus, Memelihara Adat dan Tradisi sebenarnya adalah kewajiban dari seluruh Tou Minahasa dari segi apapun asal di lakukan dengan sepenuh hati, jujur dan tidak memproyeksikan diri apalagi menjual Tanah Minahasa ini. Kalo so kunci tangan berarti so selesai, kalo blum walaupun ada tantangan apapun torang sapu dada kong tengo langit, tetaplah berkarya trus Untuk Tanah dan Tou Minahasa”. Tutup Taroreh Berapi – api. (CdR)