Mustahil Banteng Menang di Minahasa!


Manado,Nyiurtimes.com–Keputusan PDIP menendang petahana Jantje Wowoling Sajow (JWS) dalam pilkada Minahasa dianggap sebagai keputusan bunuh diri. Banyak kalangan memprediksi tanpa petahana PDIP sulit menang. Apalagi dengan rivalitas dan ekskalasi kontestasi pilkada Minahasa, yang semakin sengit.

Dimana pasangan Ivansa-CNR yang jauh-jauh telah mendeklarasikan diri sejak lama. Dari aspek politik sudah menang star. Basis masa jelas, konsolidasi masif dan sudah dikenal publik. Ini akan sangat memeras pikiran Olly sebagai ketua partai. Untuk memaksa laju putaran otak. Meracik strategi supaya kemenangan tak lepas ke tangan lawan. Kalau lengah sedikit saja, dipastikan pasangan ROR-RD yang jadi pilihan PDIP tak mulus. Malah bisa gigit jari. Dibuat malu. Sebab pilkada Minahasa adalah pertarungan hidup mati. Aduh gengsi dan harga diri partai.

Pengamat Politik Pemerintahan Ferry Liando juga punya analisis serupa. Menurutnya secara kasat mata, keputusan menendang JWS dan memilih ROR-RD sebagai jagoan PDIP tentu sudah melalui pertimbangan matang. Namun menurutnya menguntungkan bagi PDIP belum tentu sama realitanya dengan keinginan pemilih. Ia malah menyebut keputusan tersebut sangat beresiko. Jika PDIP tanpa incumbent maka PDIP Harus bekerja keras.

“Sepertinya PDIP harus berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk dapat meraih kemengan,” kata Liando. Hal itu menurut akademisi Unsrat yang fokus melakukan riset di bidang demokrasi dan pemilu bukan tanpa alasan. Liando merinci perjuangan hidup mati PDIP di Minahasa memiliki beberapa alasan : Pertama PDIP harus membuktikan kepada publik bahwa mereka tidak salah memilih dalam menentukan calon kepala daerah. Artinya PDIP sadar bahwa keputusan PDIP sangat kontroversial baik diinternal PDIP maupun reaksi publik karena PDIP tidak mampu mencalonkan kadernya sendiri. Lebih dari itu PDIP sepertinya mengambil langka spekulatif karena tidak mencalonkan incumbent. Kontroversi ini akan sirna apabila PDIP bisa membuktikan kemenganan calon mereka di Minahasa.

Kedua, kompetisi di Minahasa merupakan pembuktian kepada publik bahwa PDIP masih eksis dan memiliki power di daerah. Pilkada-pilkada sebelumnya PDIP selalu kalah.

Ketiga, harga diri PDIP juga terkait dengan bakal calon wakil bupati Minahasa yang memiliki hubungan biologis dengan ketua PDIP Sulut, bendahara DPP PDIP dan juga gubernur Sulut. Keempat, baik gubernur, wakil gubernur dan ketua DPRD berasal dari PDIP. Penguasaan jabatan tertinggi di Sulut harusnya mempengaruhi struktur kekuasaan dalam mempengaruhi sikap politik masyarakat. Tanpa mengenyampingkan daerah lain, namun sepertinya Minahasa akan jadi perhatian khusus PDIP. Jadi Minahasa itu harga diri PDIP.

Sementara itu, Sekretaris DPD PDIP Frangky Wongkar mengaku optimis, meski tak mengusung incumbent PDIP pasti menang

“Mesin partai kita solid. Bekerja maksimal

Buktinya saat kita kumpulkan semua 25 PAC hadir. Itu artinya siapun yang diusung PDIP pasti dikawal mesin partai. Dari struktur terbawah sampai tertinggi,” optimis Wongkar yang mengaku tak mengetahui persis alasan DPP lebih memilih ROR-RD yang elektabilitasnya belum tentu mumpuni, daripada JWS sang petahana. (*)