MERUNTUHKAN PAHAM RADIKALISME MELALUI PENDIDIKAN

Oleh: Christian W. Lasut, S.Th., MA., M.Th
Seorang Penulis buku, Guru, Dosen Email:gabryeljhonatanpaskah@yahoo.com

RADIKALISME adalah paham atau ideologi yang menuntut perubahan dan pembaruan sistem sosial dan politik dengan cara kekerasan. Secara bahasa kata Radikalisme berasal dari bahasa Latin, yaitu kata “radix” yang artinya akar. Ensensi dari radikalisme adalah sikap jiwa dalam mengusung perubahan.

Tuntutan perubahan oleh kaum yang menganut paham ini adalah perubahan drastis yang jauh berbeda dari sistem yang sedang berlaku. Dalam mencapai tujuannya, mereka sering menggunakan kekerasan.

Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme, karena mereka akan melakukan apa saja. Sebenarnya konsep radikalisme telah muncul sejak umat manusia ada, namun demikian jika berbicara sejarah, kata “Radikal” pertama kali diperkenalkan oleh Charles James Fox/ Pada tahun 1797 ia mendeklarasikan “reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan, reformasi ini digunakan untuk mendefenisikan pergerakan yang mendukung revolusi parlemen negaranya. Tetapi seiring berjalannya waktu, ideologi radikalisme mulai terserab dan menerima ideologi liberalisme. Terbentuk dari respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung, respon tersebut diwujudkan dalam bentuk evaluasi, penolakan, bahkan perlawanan.

Beberapa ciri-ciri paham radikalesme; 1) Buta akan kenyataan karena sangat keras kepala dengan sesuatu yang dianggapnya benar walaupun berbeda dengan kenyataan. 2) Menggunakan kekerasan dan cara negatif lain untuk mencapai tujuannya. 3) Menganggap semua pihak yang tidak setuju dengannya adalah musuh yang harus dimusnahkan. 4) Tidak menghargai Hak Asasi Manusia.

Apakah paham radikalisme dapat di cegah? Ya, pendidikan anak di sekolah dapat menjadi salah satu garda di didepan. Pendidikan tidak hanya meningkatkan kognitif siswa yang kemudian siswa cenderung berusaha mencapai peringkat pertama, kemudian mengabaikan sikap dan keterampilan. Pendidikan selalu selaras dengan tiga aspek; kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), Psikomotor (keterampilan).

Pertama aspek Kognitif : adalah sebuah cara meningkatkan kemampuan berkenaan dengan otak yang rasional, ingatan dan pengetahuan serta hafalan (Knowledge), aspek pemahaman (comprehension), aspek penerapan (application), proses analisis (analysis), sintesis (synthesis), serta evaluasi (evaluation). Aspek kognitif terus menerus berorientasi pada kemampuan siswa dan peningkatan intelektual. Kedua aspek afektif: adalah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Penanaman sikap selalu bersentuhan dengan pendidikan karakter itu sendiri. Pendidikan disekolah berkewajiban membentuk dan mencetak anak didik menjadi generasi bangsa yang memiliki keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa, sikap yang baik, moral yang baik, karakter yang baik, cinta tanah air dan sikap nasionalisme. Pendidikan di sekolah menjadi pusat pembentukan, tentunya bekerjasama dengan orang tua sehingga pendidikan dapat menghadirkan anak didik yang memiliki sikap baik. Aspek yang ketiga adalah Psikomotorik: psikomotor berkaitan dengan keterampilan (skill) tau, hal ini berkaitan dengan kemampuan bertindak.

Setiap anak didik memiliki keterampilan yang kemudian memiliki kesempatan yang sama dalam pengembangan potensi anak didik. Untuk mewujudkan ketiga aspek diatas perlu adanya penggerak dan guru sebagai pemeran utama di sekolah.
Peran pendidikan adalah guru dan kurikulum: guru sebagai motivator, guru sebagai teladan, guru sebagai sahabat. Sebagai motivator adalah mempunyai peran aktif terus menerus memotivasi anak didik untuk memiliki sikap nasionalis, wawasan kebangsaan dan toleran. Sebagai teladan, guru adalah roll model baik tuturkata, sikap dan tindakan. Guru sebagai sahabat, guru dapat menjadi teman yang baik dan dirindukan oleh anak didik. Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Negera juga hadir sebagai institusi yang berperan aktif melindungi generasi muda dari pengaruh paham radikalisme sehingga tidak terjerumus pada aktifitas terorisme. Pendidikan keluarga; peran aktif orang tua dan pengawasan yang maksimal.

Menghadirkan diskusi yang hangat, suasana yang bersahabat sehingga terjalin keterbukaan, dimana anak merasa aman saat menceritakan hal-hal yang dialami saat beraktifitas diluar rumah dan di dalam rumah. Orang tua juga memiliki tanggungjawab mengajarkan ajaran sesuai keyakinan yang dianutnya, makna tentang cinta dan kasih sayang serta menghargai perbedaan dan toleransi. Pendidikan social; lingkungan social menjadi penting bagi perkembangan anak didik. Aktifitas social menciptakan ruang yang lebih luas, disinilah peran pendidikan disekolah, peran kurikulum, peran pendidikan keluarga, peran Negara, peran pendidikan social masyarakat, untuk meruntuhkan paham radikalisme yang menjadi embrio terorisme.

Sumber rujukan:
https://www.ilmudasar.com/2017/08/Pengertian-Sejarah-Ciri-Kelebihan-dan-Kekurangan-Radikalisme-adalah.html diakses 21/5/2018
http://adidilib88.blogspot.co.id/2013/09/definisi-kognitif-afektif-dan.html diakses 21/5/2018
https://id.wikipedia.org/wiki diakses 21/5/2018