Mengapa Kita Tidak Perlu Ke Monas Merayakan Natal? Ini Alasan Pendeta Yewangoe

- Iklan -
Iklan Bank Sulutgo 1

Manado, Nyiurtimes.com – Rencana perayaan Natal di Monas menjadi viral akhir-akhir ini. Berawal dari rencana sejumlah umat kristiani yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk menggelar Ibadah Natal di Monas dan telah mendapatkan persetujuan Pemprov DKI Jakarta.

Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta tak sepakat jika acara Natal bersama dilaksanakan di kawasan Monas.

“Sudah 4 kali sampai terakhir tanggal 11 Desember. Tapi untuk kelanjutannya kami belum bisa sampaikan apa jadi di Monas atau tidak. Tapi yang jelas, PGI menyarankan kepada Gubernur tidak dilaksanakan outdoor tapi di indoor,” kata Ketua Umum PGI wilayah DKI Jakarta, Manuel Raintung saat konferensi pers di Graha Oikumene PGI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2017).

Hal tersebut menarik perhatian Pendeta Andreas Yewangoe. Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Periode 2004-2009 dan Periode 2009-2015 ini, menulis sebuah catatan yang diposting pada akun Halaman Facebooknya.

Tiba-tiba saja persoalan bernatalan di Monas menjadi viral. Ini disebabkan oleh adanya ide Pemerintah Provinsi DKI melaksanakan perayaan itu di Monas. Mengenai siapa pengambil prakarsa, masih simpang-siur. Ada yang mengatakan, ini atas permintaan beberapa orang dan/atau ormas Kristen. Pada pihak lain, katanya ini prakarsa Gubernur sendiri. Mana yang benar rasanya tidak relevan lagi untuk dipersoalkan sekarang. 

Faktanya, Panitia sudah ada yang diketuai oleh Sekda DKI. Selain itu didengar pula kabar bahwa biaya perayaan itu sepenuhnya akan dibebankan kepada ABPD DKI.

Ternyata ide yang kelihatannya simpatik ini tidak disambut dengan entusias oleh sebahagian warga Kristen. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang merupakan organisasi gereja terbesar di Tanah Air telah menentukan posisinya. Mereka menolak berpartisipasi. Tentu ada alasannya yang sudah dipublikasikan.

Saya sendiri punya alasan. Alasan pertama bersifat teologis. Dalam keyakinan Kristiani, Natal adalah wujud Inkarnasi Ilahi menemui manusia yang hina-dina, berlumuran dosa. Hal itu secara sangat jelas di”simbol”kan dalam kelahiran Sang Juruselamat di kandang domba. 

Sebenarnya kalau Ia mau, Ia bisa dilahirkan di dalam Istana yang megah, gilang-gemilang dengan emas-perak, intan-berlian. Tetapi kalau Dia lakukan itu, masih mampukah manusia hina-dina ini mendekati-Nya? Tentu saja tidak. Manusia berdosa ini akan sangat segan. Allah tahu itu. Maka Ia dengan sengaja memilih tempat yang hina-dina agar manusia yang paling rendahpun dapat dan mau menghampiri-Nya.

Maka sekarang, cukup masuk akal kalau saya (pendosa) yang hina-dina ini tidak berani angkat muka karena malu dengan melakukan perayaan besar-besaran apalagi di tempat terbuka. Saya seakan-akan berdiri telanjang di hadirat Sang Juruselamat ini. Alhasil, hakekat perayaan Natal sesungguhnya adalah peringatan keprihatinan betapa hina-dinanya manusia berdosa ini berhadapan dengan Dia yang justru memilih untuk hina-dina juga.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa umat Kristen selama ini terkesan mewah di dalam perayaan Natal? Kalau kesan itu ada, justru itulah yang harus diperbaiki. Kembalikanlah Perayaan Natal pada sifatnya yang sederhana. Kalau ada uang berlebihan sebaiknya diperuntukan bagi mereka yang berada dalam kemalangan. Sesungguhnya perayaan Natal adalah perayaan keluarga di dalam rumahtangga mencontohi Keluarga Kudus yang “merayakan” Natal (Kelahiran) di dalam kandang. Kendati itu kandang, tetaplah ia menggambarkan keutuhan sebuah keluarga.

Alasan lain yang tidak teologis, berkaitan dengan kedudukan Monas sendiri. Kendati telah ada Pergub yang mengizinkan perayaan keagamaan diselenggarakan di situ, tokh masih belum terjawab pertanyaan mendasar,  MENGAPA HARUS DISITU? Bukankah kawasan Monas mestinya merupakan kawasan yang steril karena termasuk Ring 1? Bukankah juga sudah ada gedung-gedung ibadah yang di dalamnya orang-orang beragama bisa beribadah? Saya sendiri tidak melihat urgensinya untuk menyelenggarakan upacara agama di Monas.

Tentu kita hargai Sang Gubernur yang mau adil kepada semua orang tanpa memandang agama yang dianutnya. Jadi karena kepada yang beragama Islam sudah diizinkan memakai Monas, maka sekarang giliran diberikan kepada yang beragama Kristen. Namun akan jauh lebih adil kalau di dalam perlakuan dan peri-laku sehari-hari Pak Gub tidak memandang muka. Misalnya berikanlah kemudahan untuk mendirikan rumah ibadah kepada penganut agama apa saja sejauh hal itu tidak bertentangan dengan Tata Kota. Atau ketika Pak Gub mengangkat pegawai atau pejabat di DKI janganlah pertama-tama mempertimbangkan agama yang bersangkutan tetapi kecakapan, kesanggupan, dan kompetensi. Keadilan macam ini jauh lebih awet ketimbang yang terkesan insidentil. Salam. (**)

Iklan
Iklan Bank Sulutgo 2