Mapilu ‘Sodok’ KPU Minsel

Amurang,Nyiurtimes.com — Langkah KPU Minsel memperpendek durasi tenggat pindah pemilih 17 Februari kemarin dianggap menyalahi aturan. Kritikan itu dilayangkan Masyarakat Pemantau Pemilu (Mapilu) PWI Minahasa Selatan.

Apalagi KPU sudah mensosialisasikan itu ke masyarakat. Padahal dalam ketentuan yang diatur dalam undang-undang pemilu. Pindah pemilih bisa diproses hingga 30 hari sebelum hari H. Atau hingga 17 Maret mendatang.

Ketua Mapilu PWI Douglas Panit menegaskan apapun alasannya KPU tidak boleh mengambil langkah yang tidak berdasarkan ketentuan.

Itu sebab dia menilai sosialiasi KPU bahwa pindah pemilih dibatasi pada 17 Februari atau 60 hari sebelum pencoblosan adalah kurang tepat.

“Ini justru bisa meniadakan hak konstitusional warga negara. Cuma gara-gara batas waktu pindah pemilih,” protes Panit.

Dia beralasan dalam undang-undang pemilu diatur bahwa tenggat pindah pemilih adalah 30 hari. Ini juga diturunkan melalui pasal 37 PKPU 11 tahun 2018.

Sebelumnya sosialisasi KPU Minsel mengenai batas waktu pindah pemilih dicantumkan 17 Februari. Tanpa ada informasi tambahan, jika Lewat batas waktu tersebut apakah masyarakat masih dibolehkan mengurus pindah pemilih.

“Kalau kebijakan KPU mensosialisasikan batas waktu pindah pemilih hanya diproses sebelum tanggal 17 Februari kemarin. Sebagai bagian dari strategi KPU supaya tidak tergesa-gesa. Maka seharusnya setelah 17 Februari KPU juga melakukan sosialisasi kedua. Bahwa masyarakat yang mau pindah masih punya kesempatan mengurus hingga 17 Maret nanti. Itu baru tepat,” saran mahasiswa pasca sarjana Unsrat ini.

Selain itu, Panit juga menyarakan agar Bawaslu Minsel memberikan rekomendasi kepada KPU. Soal sosialisasi yang tidak berdasarkan ketentuan.
“Kami dorong Bawaslu untuk memberikan rekomendasi. Supaya KPU Minsel melakukan sosialisasi bahwa pindah pemilih boleh dilakukan hingga 17 Maret mendatang,” harapnya.

Sembari menegaskan kritikan ini semata-mata untuk memastikan supaya suara masyarakat tidak terbuang percuma. Karena tidak bisa memilih. Cuma lantaran alasan teknis. (*)