Mahatembulelen, Pengucapan Syukur Yang Terlupakan

Mahatembulelen atau bulan besar (purnama) adalah ritual setiap bulan purnama yg sudah mentradisi sejak dahulu kala di tanah minahasa.

Fungsi dari ritual ini adalah mensyukuri setiap berkat yang ada dan jadi di tanah minahasa selain dalam bentuk ‘Mengalei’ (doa) ataupun dalam bentuk ‘umper’ (ba ator) (mengucap syukur dalan bentuk makanan dan minuman).

Ritual ini sendiri melibatkan para penjaga tradisi orang minahasa yang kebanyakan membuat ritual ini di watu pinawetengan (Diyakini sebagai pusat awal mula para leluhur berkumpul) tapi tak menutup kemungkinan ritual ini dapat dilakukan dimanapun selama orang minahasa dapat bersyukur.

Adalah seorang Rinto Taroreh (Seorang Budayawan asal Warembungan, Minahasa) yang selalu dengan setia menjaga tradisi ‘Mahatembulelen’ ini.

Mahatembulelen adalah sebuah ‘kanaramen’ bagian dari Tata cara hidup kita. Menjaga dan meneruskan tatacara itu adalah hak mutlak yang harus dilaksanakan saya sebagai penerus pemelihara tradisi ini, yg kelak akan di turunkan juga pada anak cucu saya! “. Tegas Taroreh, yang juga adalah pemimpin kelompok tarian kawasaran Waraney Wuaya.

Selain sebagai peminpin kawasaran juga menjadi mentor budaya minahasa baik di seminar daerah maupun nasional.

Berdasarkan informasi yang di dapat oleh NyiurTimes.com ketika menyambangi kediamannya di di wanua warembungan mengatakan “Ritual ini juga menjadi pengingat dan penanda bahwa apa pun yang di lakukan manusia harus di syukuri dalam bentuk apapun. Dan Mahatembulelen (bulan purnama) adalah waktu yang tepat untuk membuat ritual ini, selain mengartikan trntang penerangan dari bulan purnama juga menjadi simbol bahwa kita hidup dalam suatu lingkaran hidup yang tak putus dan saling menghidupi. (mamuali tou). Tutupnya.