Kontroversi Dukungan Mahasiswa untuk Rektor Unima

Tondano, 25 April 2018. Kampus Universitas Negeri Manado (UNIMA) kembali diramaikan dengan Surat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unima untuk Kementerian Riset dan Pendidikan tinggi (Kemenristekdikti) dalam hal ini bapak Menteri.
Inti dari Surat tersebut adalah memberi dukungan terhadap Rektor Paula Runtuwene atas kinerja dalam bidang akademik dan kemahasiswaan. Menolak segala bentuk gangguan apapun yang mengganggu serta bentuk kegiatan yang bertujuan merusak citra Unima hari ini.
Ada Apa Dengan UNIMA, hari ini? Pertanyaan itulah yang kembali muncul pada situasi dan keadaan Unima saat ini yang kembali ramai.
Jenifer, Mahasiswa FMIPA Unima (tidak mau menyebutkan marganya) menyebutkan adalah hal yang wajar jika ada dukungan BEM untuk Rektor UNIMA atas kinerjanya saat ini.

“ saya merasa ini hal yang wajar jika BEM Unima dan BEM-BEM se-Fakultas memberikan pernyataan sikap mendukung Rektor, asalkan pernyataan ini murni dari mahasiswa dan tidak ada unsur politis didalamnya” Ucap Jenifer.

Kami melihat tidak ada aksi sampai hari ini, kenapa ada reaksi. Semoga kita tidak dibodohi dengan kepintaran kita hari ini, tambahnya.
Disisi lain dari kalangan aktivis mahasiswa menilai pernyataan ini sepihak dari BEM Unima sendiri dan mempertanyaakan akan hal ini. Beberapa elemen mahasiswa juga tidak sepaham dengan pernyataan BEM hari ini yang mengandung muatan politis dan seakan tidak kritis karena hampir 1 (satu) tahun ini tidak ada Aksi ataupun kecaman mahasiswa terhadap Rektor Unima. Seharusnya BEM lebih focus pada permasalahan internal dan persiapkan Pemiliha Raya Mahasiswa yang Demokratis.

“Sangat sepihak pernyataan BEM untuk Menristekdikti. Situasi aman tidak ada Aksi dari Mahasiswa untuk penolakan Rektor, malahan aktivis hari ini lebih focus pada Pungli yang masih ada pada beberapa fakultas dan lembaga artinya oknum yang kami kritisi bukan kinerja Rektor melainkan anak buahnya. Jika memakai seluruh elemen mahasiswa Unima, maka saya bisa mengatakan bahwa tidak semua elemen mahasiswa (HMJ/HMPro, UKM) mendukung kebijakan BEM. Sebaiknya BEM lebih focus pada persiapan pemilihan BEM selanjutnya karena ada BEM fakultas yang sudah kadaluarsa dan sedikit lagi BEM UNIMA” Ucap Pocil Gerung
Seharusnya BEM merapatkan dulu dan mengundang seluruh elemen mahasiswa agar pernyataan ini lebih mempunya kekuatan murni dari mahasiswa, bukan terkesan “fiksi” seperti yang lagi ramai dibicarakan. Tambah Gerung.
Pernyataan BEM seakan adanya keraguan atas kinerja Rektor Unima yang tidak melihat dampaknya dikalangan mahasiswa itu sendiri. Kemenristekdikti terlalu pintar untuk menilai kinerja Rektor UNIMA dan kemajuan akademik serta kemahasiswaan Unima.
Diketahui ada mahasiswa yang beberapa bulan lalu mengikuti kegiatan di depan Kantor Kemenristekdikti dan mempertanyakan akan Kasus Unima yang ramai dibicarakan oleh media nasional beberapa bulan lalu. Apakah ada hubungan dengan hal ini? (***HW)