Guru Menulis Bagian Dari Pengembangan Profesi

Oleh: Christian Wahyu Lasut Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2018 Seorang Penulis Buku, Penulis Artikel Ilmiah Populer Terbit Di Media Cetak Dan Media Online.

BERDASARKAN landasan yuridis Peratuaran Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang guru, dan Permen PAN dan Reformasi Birokrasi No 16 Tahun 2009, mengamanatkan seorang guru harus menulis sebagai unsur pengembangan profesi.

Seorang guru melakukan penulisan karya ilmiah kini menjadi persyaratan penting dalam kenaikan pangkat dan golongan dalam bidang pengembangan profesi.

Artinya guru harus melakukan kegiatan ilmiah dengan melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah. Menulis karya ilmiah bukti dari laporan tertulis dari kegiatan ilmiah. Seorang guru dituntun mengembangkan profesinya dengan terus meningkatkan kapasitasnya dengan melakukan kegiatan ilmiah yang dekat dengan bidangnya yaitu bidang pendidikan.

Tentu dalam menulis karya ilmiah guru selalu diperhadapkan dengan berbagai hambatan diantaranya: guru tidak terbiasa menulis, guru tidak biasa meneliti, penggunaan IT, menentukan metode atau model pembelajaran, tidak paham sistimatika penulisan, hambatan waktu, dan lain sebagainya. Hambatan-hambatan tersebut bisa jadi salah satu hambatan sehingga guru tidak mahir menulis karya ilmiah.

Sebenarnya guru memiliki potensi besar untuk “melahirkan” banyak karya ilmiah di bidang pendidikan kemudian bermanfaat bagi banyak orang. Mengapa? sebab guru tak jaranng diperhadapkan dengan persoalan dalam peroses pembelajaran, hasil evaluasi siswa, dan lain sebagainya. Tentu yang terdekat bagi guru adalah melakukan Penelitian Tindakan Kelas.

Penelitian ini sebagai solusi ampuh untuk memperbaiki hasil belajar serta meningkatkan efektifitas belajar siswa, sekaligus dapat memperbaiki pola mengajar guru, dari yang pasif menjadi aktif. Apakah guru hanya melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)? Apakah hanya itu ruang yang tersedia bagi guru dalam mengembangkan profesinya? Tentu tidak! Selain PTK, guru dapat menulis Bets Practise, karya ilmiah popular yang diterbitkan di media cetak dan media online, juga menulis buku.

Pilihan tersebut memberikan ruang gerak bebas bagi guru dapat menentukan arah tulisannya sekaligus menjadi wahana berpikir kritis, dan mempertajam wawasan.

Dalam sebuah penelitian guru harus benar-benar memahami “siapa yang sakit, kemudian diagnosa apa sakitnya, dan temukan apa obatnya.” Melakukan kegiatan ilmiah bagi seorang guru tidak bisa dihindari jika seorang guru mau meningkatkan karir dan mengembangkan diri. Sebaliknya, guru yang tidak menulis tentu tidak dapat mengembangkan diri dan mengalami kendala dalam kenaikan pangkat.

Guru professional harus menulis!. Ya, jika seseorang telah menentukan pilihannya untuk menjadi seorang guru, maka persiapkan diri Anda untuk menulis. Manulis akan menjadi mudah dan akhirnya menjadi kegemaran, jika dilakukan dengan teliti, dan sesua data juga harus asli bukan plagiat. Dari mana dapat dimulai? Salah satunya dari evaluasi belajar siswa.

Jika hasil belajar siswa rendah, sedangkan guru telah mengajar dengan baik. Berarti ada yang salah. Terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Keadaan ini dapat dilakukan dengan Penelitian Tidakan Kelas. Guru juga dapat menulis bets practice yang artinya guru dapat menulis pengalaman terbaiknya berkaitan pembalajaran.
Guru harus mulai menulis.

Kewajiban untuk pengembangan profesi menjadi poros utama dari seorang guru. Seorang guru tidak hanya dituntut mahir mengajar dikelas, melainkan juga mahir menulis. Jika guru ingin mengembangkan diri maka mulailah menulis karya tulis ilmiah, dekatkan diri dengan kegiatan ilmiah. Sederhana saja, kesimpulannya adalah jika Anda seorang guru dan hendak mengembangkan profesi serta berdampak pada karir dan pangkat, tidak ada pilihan lain selain menulis. Maka mulailah menulis.