Fahri Hamzah: Pendukung LGBT Itu Bodoh, Norak dan Ikut-Ikutan

Manado, Nyiurtimes.com – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah memposting catatannya di halaman akun Facebooknya yang mengundang respon beragam di kolom komentarnya. 200 lebih orang yang merespon lewat komentar dan 400 lebih orang yang membagikan postingannya, sehingga menjadi viral. 

Apalagi berbicara soal LGBT, pro kontra pasti menghiasi perdebatan tersebut. Tak luput juga seorang Fahri Hamzah yang menulis catatannya itu. Ini catatannya yang diposting pukul 22.47 Wita, Sabtu (23/12/2017).

Isu LGBT dan Al-Quds memiliki akar perjuangan yang sama termasuk dengan isu-isu lokal kita tentang Kriminalisasi Ulama atau Islamophobia. 

Ini adalah perang melawan Ideologi Materi dalam negara berketuhanan. Ini puzzle yang rumit tapi nanti kita akan temukan penjelasannya. Misalnya, mengapa, Pendukung LGBT selalu sama dengan yang Islamophobia? Pendukung Kriminalisasi Ulama sama dengan yang Pro Asing dan mendukung Agenda Zionis?

Pasti anti simbol agama, Sila ketuhanan, pengajian, syariah, dll. Anda ada di mana?

Saya sampai pada pengertian bahkan afiliasi ini telah sampai pada pemecahan terhadap kelembagaan negara…

Ini adalah puzzle untuk kita cermati sebab cara kerja Ideologi Materi telah merasuk jauh dalam tubuh bangsa Indonesia… ini memerlukan kewaspadaan.

Perlu ada taushiah kepada banyak pemimpin nasional yang saya khawatir mereka terlibat sebetulnya karena tidak paham… 

Sebab saya melihat pendukung Ideologi Materi di Indonesia kebanyakan bodoh dan ikut-ikutan… beda dengan para pemikirnya di barat..

Soal LGBT misalnya, para pendukung ideologi ini di Indonesia bodoh-bodoh dan tidak punya argumen. 

Mereka ingin meletakkan argumen ilmiah tapi tidak punya data. Sulit mereka melawan keyakinan agama. Akhirnya bertingkah norak memakai survei dukungan publik.

Kita bisa melayani mereka dalam debat berat soal apakah sains memang dapat membela keberadaan jenis kelamin ke-3 dari yang diyakini manusia (Adam dan Hawa). 

Tapi, otak mereka gak sampai di situ. Mereka hanya ngambek seperti kelakuan LGBT (banci) umumnya.

Kita bukan menolak ada ketidaksempurnaan dalam penciptaan, sains membuktikan itu tetapi itu bukan pertanda adanya identitas baru. 

Justru itu adalah ruang bagi penyempurnaan yang menjadi isu yang kompleks sejak isu DNA sampai isu sosial. Kita hadir untuk menjawabnya.

Di negara kita, ketika sains bingung kembalilah pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Gak usah sok paham manusia.. balik saja pada agama. (**)