BKSDA Dan WCS-IP Apresiasi Pemkot Bitung Terkait Pelatihan Satgas

Nyiurtimes.com, BITUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung menggelar Pelatihan kepada Satuan Tugas (Satgas) Bitung Perlindungan dan Pengawasan Tumbuhan dan Satwa Liar tentang Penanganan Tindak Pidana Satwa Liar Dilindungi. Selasa (22/10/2019) di salah satu Hotel yang ada di Kota Manado.

Hal ini pun mendapat apresiasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)
Sulawesi Utara Dan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP).

“Ketiga terobosan ini menjadi contoh kolaborasi yang baik oleh semua pihak dalam meningkatkan upaya konservasi di Sulawesi utara, khususnya kota Bitung. Tentu saja kami mengharapkan kolaborasi ini dapat berjalan dengan baik dan terus berkembang. Rencana tindak lanjut (action plan) yang akan dihasilkan dalam pelatihan
ini akan menjadi basis untuk menjaga sinergitas upaya konservasi dan penegakan hukum selanjutnya,” ujar Ir. Noel Layuk Allo, MM selaku kepala BKSDA Prov Sulut.

Baca juga

Satgas Bitung Punya Tiga Terobosan Guna Cegah Dan Atasi Perdagangan Ilegal Satwa

BKSDA sendiri telah bekerjasama dengan mitra melakukan kegiatan mitigasi dan sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat atas keberadaan keanekaragaman hayati di Sulawesi Utara. “Sehingga tidak hanya alam yang terjaga dengan baik, tetapi juga terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya

Sementara itu, Dr. Noviar Andayani selaku Country Director Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) berharap himbauan resmi melalui tayangan videotron dan pelatihan ini menginspirasi semua elemen masyarakat untuk menjadi bagian upaya pelestarian dan perlindungan satwa liar

“Pelatihan ini memperkuat basis efektivitas penegakan hukum kejahatan satwa liar. Sebagai kota yang menjadi salah satu gerbang terpenting Indonesia, Bitung dapat menjadi model kolaborasi multi-pihak untuk menghentikan penyelundupan satwa liar kebanggaan Indonesia ke luar negeri, serta mencegah masuknya spesies invasif yang dapat mengancam keberadaan spesies asli Indonesia,” ujar Andayani

Dirinya pun mengungkapkan bahwa sejak tahun 2017, Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) telah bekerjasama dengan pemerintah daerah Kota Bitung dalam pembentukan Satgas Bitung. Dalam Keputusan Walikota di atas, WCS-IP menjadi salah satu dari empat lembaga masyarakat sipil yang bergabung
sebagai anggota Satgas.

Sambutan Wali Kota Bitung sebelum membuka kegiatan pelatihan Satgas

WCS-IP telah mendukung peran pemerintah Indonesia di bidang konservasi selama lebih dari 20 tahun sedangkan untuk wilayah Sulawesi Utara telah berjalan selama satu dekade.

Bitung yang dikenal sebagai “Kota Serba Dimensi” karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan sejumlah spesies satwa liar yang unik. Di antara spesies-spesies satwa unik tersebut, terdapat 4 spesies satwa yang merupakan satwa kunci, yaitu monyet hitam Sulawesi atau yaki, anoa maleo dan babirusa. Saat ini keberadaan satwa-satwa tersebut terus terancam karena diburu dan diperdagangkan secara ilegal.

“Berdasarkan sejumlah riset, jumlah populasi yaki dalam 40 tahu terakhir mengalami penurunan sebesar 80%. Anoa dan maleo semakin sulit dijumpai. Sebagai kota yang memiliki pelabuhan terbesar di Sulawesi Utara, Bitung memiliki peran strategis untuk dapat memutus jalur penyeludupan satwa liar dari Indonesia Timur ke negara-negara tetangga, seperti Filipina, Thailand dan Hongkong,” tutupnya. (REFLY)