Himapem Fispol Unsrat Bicara Ketimpangan Gender

Pemantik bersama Peserta Diskusi

MANADO, Nyiurtimes.com – Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan pada Perempuan, Himaju Ilmu Pemerintahan Fispol Unsrat menggelar diskusi publik dengan takjub “Ketimpangan Gender” yang berlangsung pada, Rabu (28/11/2019) di sekretariat Dewan Perwakilan Mahasiswa Fispol Unsrat.

Diskusi yang di hadiri oleh sekitatan 20an mahasiswa dengan dua pemantik, yakni Alvian Tempongbuka selaku ketua LMND Komisariat Unsrat dan Isty Regita Mamangge Demisioner ketua Kopri PMII Komisariat Unsrat, keduanya merupakan mahasiswa Fispol Unsrat. Masing-masing dari pemantik memaparkan pandangan mereka mengenai topik yang diangkat.

Menurut pandangan dari ketua LMND Komisariat Unsrat, persoalan perempuan sampai dengan hari ini masih saja terjadi, maka Tema yang diangkat tentang Ketimpangan Gender sangatlah cocok untuk mengulas masalah kekerasan terhadap perempuan hari ini dengan membawanya dari sisi historis.

“Awalnya perempuan dengan laki-laki punya eksistensi yang sama, tapi dengan berjalannya waktu, dengan tahapan revolusi yang terjadi, baik dari revolusi Agrikultur, kognitif, kekerasan terhadap perempuan masih saja terjadi, bahkan perempuan masih pada posisi sekedar urusan domestik,” ulas Alvian.

Suasana Diskusi

Menurutnya, dalam revolusi Saintifik memang ada perubahan yang luar biasa dimana perempuan bergerak untuk menuntut sebuah kesetaraan Karna merasa begitu termajinalkan dalam ruang kerja industri.

“Nyatanya persolan perempuan juga tak kunjung selesai, mulai dari KDRT yang didalamnya terkandung baik kekerasan secara fisik ataupun nonfisik, pemerkosaan, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Alvian mengatakan jika hal tersebut sering dianggap biasa karena tak terjadi pada kita, padahal bukan suatu yang tidak mungkin jika ini dibiarkan begitu saja akan berbalik pada kita.

“Esok, lusa, atau kedepan hal ini bisa terjadi pada org terdekat kita ataupun pada diri kita sendiri,” katanya.

Sementara itu, Isty Regita Mamangge memiliki pandangan yang agak sedikit berbeda, dia membahas bahwa perempuan punya hak sama dengan laki-laki di ranah publik.

“Perempuan akan sama di wilayah publik, namun tidak akan sama dalam ranah kodrat biologis,” ucap Isty.

Baginya, di ranah sosial gender dikonstruksi sedemikian rupa, semisal mengenai sifat-sifat ganteng dan cantik dan tidak gangteng dan tidak cantik ini mendiskriminasi yang lain akibat budaya yang di bangun.

“Ini semua terjadi karena budaya-budaya atau kebiasaan yang sudah di bangun dari historis kalau perempuan ini lemah, makanya tidak bisa jadi pemimpin di publik yang seharusnya di wilayah publik kita tidak boleh memandang hal ini,” jelasnya.

“Kesetaraan gender paling penting adalah ketika di semua pihak mampu memanusiakan manusia lain,” tutup Isty

Adapun ketua Himaju Ilmu Pemerintahan Martin Nehemia Maringka, mengatakan harapannya kedepan dari diskusi ini.

“Diskusi ini yang di selenggarakan oleh Divisi Penalaran dan Keilmuan, kiranya dapat menstimulus mahasiswa untuk tetap berkomitmen dalam metawat nalar,” harap Martin.(Mineshia)