2019, Sejumlah Legislator Minahasa Selatan “Loncat Pagar” Masuk Golkar?

Amurang,Nyiurtimes.com – Sejumlah legislator Minsel dikabarkan akan masuk Golkar untuk maju pileg 2019 nanti. Sinyalemen itu sudah jadi buah bibir warga akhir-akhir ini. Sas-sus ini malah dibincangkan mayoritas warga dari berbagai kalangan. Bagi mereka adanya anggota dewan yang akan hengkang dan menentukan pilihan ke parpol lain itu dilatari karena memilih aman. 

Tak terkecuali informasi itu pun duakui salah satu orang dalam Golkar Minsel. Lalu siapa saja para legislator yang akan memilih banting stir masuk ke Golkar?

“Ada beberapa yang sudah melakukan komunikasi politik dengan kami (Golkar, red) meskipun itu cuma sekedar bincang-bincang biasa. Tapi untuk sementara kami belum berani membocorkan siapa mereka. Ini juga sesuai permintaan mereka. Nanti kalau sudah memasuki masa akhir periode mereka akan menyatakan sikap secara langsung,” ungkap sumber dimaksud yang enggan mengijinkan namanya dikorankan.

Kendati begitu, iapun mengatakan para politisi yang mengaku cenderung eksodus dari partai mereka dan masuk ke Golkar itu tersebar di beberapa daerah pemilihan (dapil).

Pengamat Politik Sulawesi Utara Ferry Liando mengatakan fenomena politisi kutu loncat memang sudah jadi trend politik di Indonesia. Bahkan cuma partai tertentu saja yang akan menerima politisi hengkang. Hampir semua parpol menurut Liando akan melakukan hal serupa. Salah satu penyebab karena UU Nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu tidak melarang jika para politisi bisa pindah partai. Apalagi kalau politisi itu punya peluang terpilih pasti akan sangat direspon sekali oleh partai dimana yang bersangkuta berlabuh.

“Semua parpol sepertinya tidak akan peduli soal kualitas calon. Parpol akan merekrut politisi yang jelas akan terpilih. Salah satu sebab karena parpol punya kepentingan untuk meraih suara atau kursi sebanyak-banyaknya,” jelas Liando

Ia pun berendapat secara kasat mata parpol punya kepentingan pada angka-angka politik yang harus dicapai. Misalnya : pertama, semua parpol berusah mencapai angka 4 persen suara hasil pemilu sebagai syarat parlemen treshold yaitu syarat parpol menjadi anggota DPR. Kedua, Parpol harus berebut suara 25 persen atau 20 persen kursi hasil pemilu sebagai syarat parpol mencalonkan kader di Pilkada. Ketiga semua parpol berusaha raih banyak kursi agar dapat jabatan di pimpinan DPRD dan alat kelengkapan dewan. Dari penjelasan ini tersirat setidaknya ada beberapa faktor penyebab kenapa para politisi memilih berpindah haluan.

Pertama: Peluang karir. Banyak terjadi di dunia politik Indonesia bahwa orang memilih bergabung dengan partai politik adalah sebagai pekerjaan utama mereka.

Ketika partai politik lain dipandang lebih dapat menjamin harta maupun kedudukan, maka si kutu loncat akan mengincar.

Kedua: Insiden politik. Sebab kedua ini juga cukup jamak terjadi. Politisi meloncat ke parpol lain diakibatkan karena terjadi insiden yang melibatkan dirinya dengan partai lama sehingga ia mengundurkan diri atau diberhentikan lalu pindah Parpol lain. Penyebab kedua ini juga ada benang merahnya dengan penyebab pertama.

Ketiga: Pragmatisme Politik. Disamping karena faktor pribadi, sejatinya perihal politisi kutu loncat Politisi ini juga dampak dari sistem struktural Parpol. Yakni buah dari eksperimen pragmatisme politik yang dilakukan oleh Parpol yang kemudian menjalar ke pragmatisme politisi.

Sementara itu, Ketua DPD Golkar Sulut Christiany Eugenia Paruntu menyambut baik sinyalemen sejumlah legislator Minsel yang akan memilih maju pada pileg 2019 bersama Golkar.

“Ia kita wellcome siapa saja yang mau. Golkar terbuka kok untuk semua,” jawab Bupati Minsel yang populer dengan sederet prestasi membanggakan itu. (*)